Berawal Skeptis Berakhir ke Penasaran
Cerita Perjalanan si Asep menelusuri AI dalam Dunia Testing
Kenal Asep?
Oke, mungkin bukan nama sebenarnya, tapi lo pasti kenal orang seperti dia, atau mungkin lo sendiri sebenarnya dia
Jadi Asep adalah seorang software tester berpengalaman 8 tahun, berkarir sejak masa keemasan dunia Startup di Indonesia, dia tipe tester yang bisa ngendus bug cuma dari sekilas baca requirement PRD, tipe yang suka bikin developer agak deg-degan pas presentasi, karena Asep pasti nemu sesuatu, “kok bisa kepikiran ya?” gumam Dev, dia tipe QA yang kalo disuruh bikin test case, malah requirement nya yang perlu di tinjau ulang.
Exploratory testing adalah jurus andalan si Asep, dia bangga dengan kemampuan itu, dan emang sudah seharusnya merasa bangga dengan keahlian di atas rata-rata QA lainnya. ketika di kantor mulai rame ngomongin AI buat testing, reaksi Asep cukup bisa ditebak:
“AI emang bisa nemuin bug yang ga ada di requirement? AI mana bisa nemuin bug aneh-aneh”
”Emang komputer punya perasaan bedain bagus dan jelek?”
Bukan dengan nada marah, bukan juga defensif, lebih ke… meremehkan sih. Kayak orang yang nguping obrolan nasi goreng mana paling enak di gofood, tapi dia tau nasi goreng mahakarya mang Udin langganannya jelas ga ada yang bisa ngalahin.
Zona nyaman yang terasa seperti sangkar
Bisa aja bilang “ga mungkin ada yang lebih enak” dari nasi goreng mang Udin, bisa jadi emang dia maen nya kurang jauh, atau emang “belum muncul” tukang nasi goreng baru eks chef hotel misalkan.
Balik lagi ke Asep, tentu punya alasan kuat untuk skeptis, karena testing itu perlu keahlian di luar paham teknis, testing butuh intuisi, butuh pemahaman bisnis, pengalaman bertahun-tahun diskusi dengan user, memahami keluhan mereka, menerjemahkan itu semua jadi skenario non-functional test.
Tentu saja nggak akan cukup dituliskan dalam jendela chatbox dengan AI.
Artificial Intelligence (AI) cuma bisa proses data, AI nggak pernah duduk di meeting sama Product Owner yang frustasi karena fitur baru bikin crash di Production.
AI nggak pernah denger komplain CEO jam 11 malem.
Gw yakin Asep bukan satu-satunya yang mikir begini.
Di dunia QA sendiri, sentimen yang sama beredar, falsafah yang banyak diyakini orang:
Manual testing itu ada seninya, sebuah craft dari hasil latihan, dan seni nggak bisa di-automate ~ceunah
Tapi ada satu kritik kecil dengan arguman ini.
Nggak ada yang bilang AI mau menggantikan seninya, yang sedang terjadi sekarang justru jauh lebih menarik dari itu
Meeting yang mengubah segalanya
Dua bulan setelah Asep nge-dismiss AI, ada review akhir tahun 2025, presentasi per tim, metrics dan achievements. Asep duduk di barisan kedua, laptop terbuka setengah, telinga terbuka penuh mendengarkan paparan Lead squad lain.
Tim Platform maju, mereka memamerkan adopsi AI-assited testing, Lead Developernya, katakanlah namanya Jajang, presentasi dengan santai, nggak dramatis, nggak heboh, cuma share data aja:
“Bug detection rate kita improve signifikan di quarter akhir ini”
Asep berhenti ngetik, menghiraukan jendela chat di Slack.
Jajang melanjutkan “Karena kita bisa explore lebih banyak area yang sebelumnya nggak sempet kita sentuh, AI bantu generate initial test scenarios dari Unit test sampe Integration test, kita tinggal refine dan explore lebih dalam mana yang harus sesuai dengan konteks feature tersebut”
Pernyataan itu nempel di kepala si Asep sepanjang sisa meeting, bukan (cuma) karena datanya mengesankan, tapi menemukan setitik celah dalam terowongan gelap yang bisa dilalui cahaya, ada gambaran visual mengenai arah yang harus dilalui
“Gimana caranya?” jadi kaset kusut dikepalanya, Jajang nggak bilang AI menggantikan manual tester di timnya, dia bilang AI bantu timnya explore lebih banyak.
Pulang kantor, Asep langsung buka laptop di meja makan, biasanya nyalain PS maen EAFC 26, tapi malam itu dia buka Google.
“AI-assisted Exploratory Testing”
lalu menekan Enter
Tahap Pertama: Dinding denial yang mulai retak
Belum lama nonton Netflix “Tinggal Meninggal” disitu baru denger yang namanya fase pertama dari grief itu denial. Tapi ini bukan grief, ini lebih kayak… denial yang mulai terkikis rasa penasaran
“AI generate 100 test case sekaligus? ngapain banyak-banyakan klo testnya generik dan dangkal”
Baca lagi, ternyata ada yang pakai konteks dari user story dan historical bug data.
“Oke, tapi pasti AI nggak ngerti edge case yang spesifik”
Baca lagi. Ada yang gabungin AI suggestion dengan domain knowledge tester untuk refine skenario
“Tapi tetep, sama aja boong klo ujungnya QA yang test itu manually”
Baca lagi. Ada tester yang cerita pengalamannya klo AI justru trigger intuisi testing dia, AI bisa kasih perspektif yang nggak kepikiran, kemudian bisa dia explore secara manual
“Hmm”
Asep bergumam, emang di dunia nyata ga semua tester punya skill testing yang sama sih
Setiap bantahan Asep dijawab dengan “AI ga bisa …”, tapi selalu nemu counter argument “Klo ternyata bisa diginiin …”
Malam itu, Asep nggak tidur sampai jam 2 pagi, bukan karena cemas, tapi karena penasaran!
Sesungguhnya Software Tester sejati pasti tau klo rasa penasaran itu lebih kuat dari rasa takut
Obrolan di Pantry
Esok paginya, Asep nyamperin Jajang di pantry, bukan dengan niat konfrontasi, lebih banyak ke Investigasi, tester instinct-nya nyala
“Jang, ari presentasi kamari eta teh nyaan?” maklum mereka mah urang sunda, kurleb begini translate nya “bro, was that presentation yesterday actually legit?”
Jajang tertawa “Sing cadu, Kereut ceuli aing”, biar ga cape gw terjemahin ke bahasa Indonesia langsung aja ya, “Beneran, tapi konteksnya penting cuy, Bukan berarti AI nemu lebih banyak bug sendirian, kita yang nuntun harus gimana, jadinya efort yang sama bisa cover lebih banyak area testing”
“Maksudnya?” tanya Asep dengan curios-na teh
“Jadi gini, biasanya klo ada fitur baru, tim gw dulu cuma sempet bikin test happy path, asal sesuai acceptance criteria dan beberapa negative scenario yang obvious dah cukup, karena secara waktu nggak cukup buat explore lebih dalam, sekarang AI bantu generate skenario awal, dengan jalanin claude skill di repo source codenya, dah jadi tuh barang, dia baca konteks kode lain di repo secara otomatis, emang beberapa masih generik, tapi banyak juga yang tajam dan itu jadi titik awal buat benerin dan mengasah lagi test lainnya, termasuk bikin panduan exploratory testing yang lebih terarah”
Asep diam sebentar, otaknya sedang memproses data
“Jadi AI-nya nggak testing sendiri?”
“Nggak, AI-nya nggak jalanin testi, AI-nya bantuk mikir, kayak pair programming, jadiin teman sparing, kita kasih konteks, dia kasih perspektif, terus kita yang mutusin mana yang worth dipake”
Sparring Partner
Dua kata itu klik di kepala Asep, karena selama ini, salah satu hal yang paling susah di exploratory testing adalah testing sendirian, nggak ada yang challenge perspektif lo, beda dengan pair testing, bahkan mob testing. Nggak ada yang kasih sudut pandang berbeda, kita explore berdasarkan apa yang kita tau, bahkan kadan ga konsisten setiap hari tergantung mood hari itu, dan kadang memang jelas ada blind spot.
AI sebagai test buddy, jelas beda dari pemahaman “AI yang menggantikan tester” yang selama ini Asep percayai
Bersambung ….
Gimana suka dengan gaya penulisan storytelling gini ga?
Maaf lama sekali saya vakum dalam menulis, karena berbagai alasan, dari alasan klasik dengan kesibukan kantor, sampai explorasi side job, dari fotografi dan trading saham, tapi kini saya mulai sadar akan main job saya di software testing tentu perlu diasah kembali, termasuk dari sisi keahlian bercerita.
Maka dari itu saya mulai kembali milis ini dengan cerita fiktif si Asep, yang saya yakin juga ada banyak diantara kita yang merasakan hal yang sama.
Sampai jumpa di artikel lanjutan lainnya ya, kalau ada pertanyaan jangan sungkan untuk kirim di Instagram @ngetest.id yaaa, biasanya langsung saya bales (klo ga susah pertanyaannya :D )


